terpaksa berbeda

jordan peele mencatat sejarah sebagai orang kulit hitam pertama yang menyabet piala oscar kategori skenario orisinal terbaik. tidak hanya itu, ia juga dinominasikan sebagai sutradara terbaik untuk film debutnya, get out, yang juga dinominasikan sebagai film terbaik pada academy awards 2018.

sebagai penggemar berat sketsa komedi peele (bersama rekannya, keygan-michael key dalam key & peele), saya tentu senang sekali mengetahui kabar ini. meskipun, sayangnya, saya belum kesampaian menonton get out sampai sekarang. salahkan bioskop indonesia yang cuma peduli sama film superhero b̶o̶c̶a̶h̶ ̶b̶u̶a̶t̶a̶n̶ ̶m̶a̶r̶v̶e̶l̶.

ehem.




kemenangan peele juga menjadi "angin segar" bagi dunia perfilman amerika serikat, khususnya the academy of motion picture arts and sciences ("academy") setelah ribut-ribut tagar #oscarssowhite di beberapa edisi academy award ke belakang. tapi, dilihat dari sisi lain, situasi ini bisa juga dikatakan menyedihkan.

begini, nominasi (dan akhirnya, kemenangan) peele di berbagai kategori hanya* terjadi setelah adanya tekanan dari publik soal diversitas dalam gelaran oscar. hal ini seakan menunjukkan bahwa academy 1) memang memiliki kebijakan untuk mengerdilkan minoritas dan/atau 2) memaksakan perbedaan** hanya karena mereka harus punya portfolio pemenang oscar yang berkebhinnekaan. ada kemungkinan, keduanya terjadi secara bersamaan.

jika academy memang memiliki kebijakan "pengerdilan" seperti yang saya tuduhkan, saat ini posisi mereka sudah jauh lebih baik. kemenangan peele menunjukkan bahwa mereka mau berubah, dan hal ini patut diapresiasi. artinya, di masa depan, ada lebih banyak insan film dari golongan minoritas lain yang punya kesempatan untuk menjadi seperti peele.

tetapi kemudian ada masalah berikutnya, tokenism. begini, meskipun terlihat mulia di atas kertas, membuat kondisi menjadi inklusif secara sengaja bisa mendatangkan konsekuensi negatif. jika benar, misalnya, peele "dipaksa" menang hanya karena academy ingin punya penulis skenario terbaik berkulit hitam dalam portfolio mereka, berarti academy sudah tidak menjalankan fungsinya secara bertanggung jawab. ingat, oscar adalah penghargaan yang diberikan pada pelaku atau karya film terbaik, sehingga pemilihan pemenangnya pun harus dilakukan atas pertimbangan dari sudut pandang perfilman.

apa yang terjadi bila acedemy memilih pemenang oscar berdasarkan ukuran-ukuran sosial seperti warna kulit, jenis kelamin, atau bahkan orientasi seksual? jawabannya sama dengan apabila kita memilih buah jeruk di pasar bukan karena rasa atau harganya, melainkan karena penjualnya menyukai warna merah. 
kita pun berpeluang besar mendapat jeruk yang tidak manis, bahkan busuk.

di saat yang sama, memilih pemenang tidak berdasar pada kualitas karya juga berarti menyisihkan karya-karya yang (mungkin lebih) pantas untuk diakui kualitasnya. bayangkan bila ada penulis yang bekerja jauh lebih keras untuk menghasilkan skenario yang lebih berkualitas dari get out, hanya untuk kemudian disisihkan karena ia berkulit putih. bisa jadi, sutradara kulit putih lain akan menjadi kurang termotivasi untuk membuat film, yang pada akhirnya akan mengurangi kualitas perfilman secara keseluruhan.

tidak hanya di oscar, tokenism juga terjadi di mana-mana. baru-baru ini, sedang ramai berita tentang mantan karyawan youtube yang menuntut perusahaan tersebut karena menolak merekrut karyawan laki-laki keturunan asia atau berkulit putih. ini terjadi karena youtube menyadari bahwa mereka harus terlihat sebagai perusahaan yang berkebhinnekaan. imbasnya, lelaki-lelaki kulit putih dan keturunan asia pun harus rela menjadi korban.

lalu, apa yang harus dilakukan?

menurut saya sih, masalah ini muncul karena tekanan dari luar, seperti #oscarssowhite itu***. begini lho, ada masa ketika inklusivitas benar-benar dibutuhkan (contoh, ketika academy didominasi oleh orang tua di tahun 60-an) dan perlu adanya gerakan sosial yang dilakukan untuk mendukungnya, tapi sangat sulit untuk menghindari fanatisme yang merusak--hanya menghendaki tanpa menimbang akibat. ini membuat kita jadi menginginkan adanya keanekaragaman for the sake of it, secara terpaksa. lihat apa yang terjadi pada youtube.

yang mau saya bilang adalah: tanpa tuduhan tidak inklusif dari kita, mereka tidak akan mengusahakan inklusivitas secara bodoh. untuk itu, pikirkanlah dengan matang tentang isu yang ingin kita perjuangkan. hindari memasukkan sentimen pribadi atau golongan ketika kita sedang menghadapi isu tidak seharusnya "diambil hati", dan pahami bahwa tidak semua kehendak kita bisa diimplementasikan begitu saja.

penulis adalah orang indonesia (negara berpenduduk terbesar ke-4 dunia) yang berasal dari suku jawa (40,2% penduduk indonesia), beragama islam (87%), dan memiliki orientasi seksual yang lurus-lurus saja (tidak ada data statistik, tapi hampir pasti mayoritas). sebagai tambahan, penulis juga tinggal di kota besar dan bekerja sebagai karyawan swasta.

*) jangan diambil hati, karena saya tidak sedang berbicara tentang fakta yang sebenarnya
**) agar tidak ada kesalahpahaman, perlu saya tegaskan bahwa saya tidak membuat tuduhan apa-apa. pernyataan (hipotetis) saya berdasar pada pernyataan presiden academy yang mengungkapkan bahwa organisasinya perlu membuka pintu untuk kelompok minoritas.
***) bukan berarti saya tidak setuju sama gerakan ini, dan bukan berarti gerakan ini tidak membawa pengaruh positif; lihat poin sebelumnya

Komentar