merayakan tahun baru ala muslim

beberapa hari menjelang tahun baru, saya menerima sebuah pesan di grup whatsapp. judul pesannya spektakuler: gerakan sepikan malam tahun baru.



intinya, pesan tersebut mengajak umat muslim untuk membuat perayaan tahun baru "tidak ada apa-apanya" dan sepi. dalam pesan itu, umat muslim diminta untuk tidak melakukan amalan-amalan khas tahun baru seperti meniup terompet, menyalakan kembang api, bahkan tidak menonton tv. kalaupun ada kegiatan, umat muslim disarankan untuk mengumandangkan zikir, alunan bacaan quran, dan tausyiah.

saya membaca pesan itu sambil lalu. toh saya memang bukan anak tahun baru.

beberapa hari kemudian, pada malam 31 desember, saya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah mertua. saat melintas di sebuah jalan yang cukup ramai, saya melihat cahaya lampu sorot. tidak hanya satu, tetapi sekitar tiga lampu sorot menyala di kejauhan. saat mendekat, ternyata lampu sorot itu berasal dari sebuah masjid yang terletak di pinggir jalan. masjid tersebut sedang mengadakan perayaan maulid nabi dengan pengunjung yang membludak. seorang penceramah berdiri di atas panggung yang dibuat megah, lengkap dengan sepasang onta yang terbuat dari gabus. ia berbicara dengan mikrofon dan suaranya diamplifikasi layaknya konser musik.

saya bukan bagian dari kelompok yang mengharamkan maulid nabi. sejak kecil, maulid nabi sudah menjadi bagian dari hidup saya. selama sekolah menengah, saya malah rutin menjadi panitia maulid di sekolah. saya hanya tidak sreg melihat acara maulid yang diadakan di masjid itu.

saat itu, saya bertanya pada diri sendiri: apakah acara ini adalah salah satu usaha untuk menjalankan ajakan untuk mengecilkan tahun baru, seperti yang saya terima di whatsapp?

jika jawabannya ya, menurut saya strategi ini tidak tepat. untuk menunjukkan bahwa tahun baru tidak penting, kita seharusnya tidak melakukan hal khusus di sekitar tahun baru.

artinya, jika sebelum tahun baru kita tidak mengadakan pengajian tengah malam, jangan adakan pengajian tengah malam. jika sebelum tahun baru tidak ada zikir bersama, jangan lakukan zikir bersama. jangan juga mengadakan ceramah khusus yang tayang langsung di stasiun televisi nasional. bahkan, jangan menyebarkan pesan berantai tentang larangan meniup terompet!

jangan lakukan apa-apa. jangan lakukan ibadah "khusus" apa-apa. ingat, tahun baru bukan momen khusus, jadi jangan perlakukan ia dengan istimewa.

tapi apa mau dikata, umat muslim malah beramai-ramai melakukan rangkaian ibadah di luar rumah, seperti yang terjadi di masjid tadi (dan banyak contoh lainnya). mungkin yang ingin disampaikan adalah "muslim harusnya begini pas tahun baru", tapi kesan yang muncul di benak saya adalah usaha (terlalu) keras untuk menyaingi perayaan tahun baru, yang pada akhirnya malah membuat tahun baru jadi semakin ramai. ironis.

atau, jika jawabannya tidak, berarti saya layak mendapat dosa buruk sangka. astaghfirullahalazim. mungkin saja perayaan maulid ini murni baru bisa dilakukan di tanggal 31, atau 30 hari (alias satu bulan penuh) sejak jatuhnya maulid nabi 2017.

kalau begitu, mudah-mudahan maulid nabi tahun ini tidak diadakan tanggal 20 desember. aamiin.

n.b. saya mendapatkan pesan lain di grup yang sama, yang isinya menerangkan bahwa ada dua cara muslim untuk "menghadapi" tahun baru, yaitu 1) tidak peduli dan 2) membuat acara tandingan.

Komentar