06/03/17

the bottomless quota

brian wansink, salah satu ilmuwan favorit saya, pernah melakukan sebuah riset bernama "the bottomless bowl". dalam penelitian itu, wansink dan rekan2nya meminta partisipan penelitian untuk memakan sup dari dua jenis mangkok. mangkok pertama adalah mangkok biasa, sedangkan mangkok kedua sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sup di dalamnya tidak habis2. sesuai nama risetnya, kita sebut saja mangkok khusus ini sebagai "mangkok tak berbatas".

perkiraan mekanisme mangkok tak berbatas: sup dikirim melalui corong, melewati selang yang tersembunyi

riset tersebut menemukan bahwa partisipan yang memakan sup dari mangkok tak berbatas menghabiskan 73% lebih banyak sup dibanding mereka yang makan dari mangkok biasa. selain itu, mereka juga merasa mengonsumsi rata2 140,5 kalori lebih sedikit dari yang sebenarnya (sebagai perbandingan, satu bungkus qtela barbecue ukuran 185gr mengandung 110 kalori). parahnya, mereka tidak merasa lebih kenyang daripada partisipan yang makan dari mangkok biasa.

apa pasal?

menurut wansink dan rekan2nya, manusia sangat mengandalkan informasi dari penglihatan (visual cues) dalam mengambil keputusan soal makan. dalam hal ini, selama makanan dalam mangkok belum tandas, kegiatan makan akan terus berlanjut. selain itu, banyak partisipan yang melaporkan adanya kebiasaan menghabiskan makanan ketika makan di rumah--yang tentunya "memperparah" efek dari visual cues.

salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari penelitian ini adalah bahwa manusia tidak selalu bisa mengontrol perilakunya sendiri. ada banyak faktor di luar diri manusia (misalnya, informasi visual tentang jumlah makanan yang tersisa di mangkok) yang membuat kita melakukan hal2 yang tidak sejalan dengan keinginan jangka panjang kita. dalam hal makan-memakan, temuan ini relevan bagi mereka yang sedang menjalani program diet.

ah, sepertinya saya terjun terlalu dalam. apa yang ingin saya sampaikan malah terlambat muncul karena terlalu asyik bercerita soal riset wansink.

saat ini, saya sedang memutuskan untuk pindah tempat tinggal. masalahnya, lokasi tempat tinggal baru itu tidak dijangkau oleh penyedia jasa internet langganan saya saat ini. yang jadi permasalahan adalah alternatif yang tersedia di tempat baru sangat tidak menarik (terlalu mahal dan terlalu lambat), sehingga pilihan yang paling mungkin adalah menggunakan internet prabayar.

tapi kemudian masalah lain mengemuka. saya sudah terbiasa menggunakan internet tak berbatas (unlimited) selama hampir satu tahun terakhir. akibatnya, saya menciptakan gaya hidup tertentu yang tidak bisa dipuaskan oleh internet berbatas, seperti bermain game fifa online 3 dan menonton youtube semalaman.

saya melihat paralel dari masalah ini dalam perilaku partisipan riset wansink dkk. selama ini, saya adalah partisipan yang makan dari mangkok tak berbatas; saya mengonsumsi internet yang tidak bisa habis--the bottomless quota--yang berarti tidak adanya peringatan ("visual cues") bahwa pasokan internet akan habis. akibatnya, saya terus-menerus mengonsuminya hingga tidak sadar bahwa telah terjadi kelebihan konsumsi, yang berakibat buruk pada "kesehatan" waktu saya.

seperti terlambat bangun pagi. yang kemudian berakibat mudah lelah dan mengantuk. yang akhirnya menjadi masalah kesehatan--fisik dan psikis--betulan.

kali ini, saya akan dipaksa untuk makan sup dari mangkok biasa. seperti cara mengatasi sebagian besar masalah kesehatan, mau tidak mau saya harus menelan pil pahit ini agar kembali sehat dan produktif. semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar