22/01/17

memaklumi kesalahan sendiri

lusa kemarin saya mengobrol panjang lebar dengan seorang teman. kami sudah berteman sejak masih kuliah. sebelum kemarin, sebenarnya saya sudah sangat jarang mengobrol langsung dengan teman lama seperti itu, jadi ini adalah momen yang berharga.


seperti kebanyakan orang di hari2 ini, topik politik tidak terhindarkan dari obrolan. kami berdua mungkin sebenarnya tahu pembicaraan ini tidak lebih bermanfaat dibandingkan mandi sore, namun layaknya kue coklat bagi pegiat diet, godaan bicara politik sangatlah kuat.

dan seperti orang sok bicara politik lainnya, topik apalagi yang kami bahas kalau bukan tentang pemilihan gubernur dki.

sejak sebelum pembicaraan ini, kami sudah sama2 tahu bahwa kami punya preferensi yang berbeda. dia, penduduk dki jakarta, adalah pendukung pasangan calon nomor 3 anies-sandi, sedangkan saya--meskipun bukan pemegang ktp dki--menjagokan nomor 2 ahok-djarot.

berbagai argumen kami lemparkan; argumen2 yang sepertinya tidak cukup kuat untuk mengubah pendirian lawan bicara masing2, atau mungkin karena pendiriannya yang sudah kuat. kami mengungkapkan alasan memilih dan mengapa tidak memilih satunya.

seakan2 calonnya cuma ada dua.

begitulah, seberapapun kami tidak sepakat pada pilihan lawan bicara masing2, kami setuju pada satu hal: pasangan calon nomor 1 agus-sylvi adalah pasangan yang--untuk tidak menyakiti hati--tidak menarik. demi kemaslahatan bersama, tidak perlulah saya jelaskan alasannya di sini.

di satu titik, saya teringat sebuah konsep dalam behavioral economics bernama decoy effect. seperti semangat utama behavioral economics untuk "membuktikan" bahwa pelaku ekonomi adalah manusia/homo sapiens--alih2 makhluk imajiner bernama homo economicus--decoy effect memperlihatkan bahwa preferensi manusia bukanlah sesuatu yang ajeg atau absolut. dalam bahasa yang lebih sederhana: ternyata pendirian/pilihan kita tidak sepenuhnya terbebas dari pengaruh luar diri.

sebagai contoh, saat ini ada dua jenis kamera canon yang ada di pasaran. anggaplah nilai sebuah kamera ditentukan oleh harga (semakin rendah semakin menarik) dan resolusi gambar (diukur dengan megapixel/mpix, semakin tinggi semakin menarik). bagi sebagian orang, harga tidak menjadi masalah yang penting kualitas gambar bagus, bagi sebagian yang lain, harga adalah pertimbangan utama.

dengan kondisi pasar yang demikian, sebutlah ada kamera model x yang dibanderol 3,5 juta rupiah dengan resolusi 15mpix, dan kamera model y dengan resolusi 30mpix yang dihargai 7 juta rupiah. orang2 yang mementingkan kualitas gambar akan dengan mudah memilih kamera y, sedangkan kamera x akan menarik minat konsumen irit.

tapi, bagaimana jika kamera z, yang dijual dengan harga 8 juta rupiah (lebih mahal dari x dan y) dan resolusi 25mpix (hanya menang dari x), dilepas ke pasaran? dalam kondisi seperti ini, decoy effect akan membuat kamera y lebih laku dibanding kamera x. hal ini terjadi karena kamera z, sebagai alternatif yang paling dihindari, membuat kamera y tampak superior daripada kedua pilihan lain--sedangkan kamera x hanya menang di harga. dalam hal ini, kamera z bertindak sebagai decoy (tipuan); ia memiliki karakteristik yang mirip dengan y, namun lebih buruk.


pelajaran yang bisa kita petik dari decoy effect adalah kemunculan alternatif yang lebih buruk akan membuat sebuah pilihan terlihat lebih menarik.

kembali ke soal pemilihan gubernur, saya pun menggunakan pelajaran dari decoy effect untuk memprediksi siapa yang keluar sebagai pemenang. karena sepakat bahwa nomor 1 sudah pasti kalah, kesepakatan antara saya dan teman saya berlanjut bahwa pilkada akan berlangsung dua putaran, antara nomor 2 dan 3.

kala itu, dengan penuh percaya diri saya bilang bahwa pasangan yang paling mirip dengan pasangan nomor 1 adalah yang akan kalah nantinya. teman saya kemudian menyimpulkan bahwa jagoannyalah yang paling mirip dengan pasangan nomor 1, karena keduanya lekat dengan isu2 seputar agama islam. ia pun mengamini titah decoy effect saya sambil menyimpulkan bahwa nomor 3 akan kalah di putaran kedua.

tapi, kalau kalian membaca dengan saksama, kalian akan tahu bahwa saya salah. ya, saya keliru berat dengan secara tidak langsung mengatakan bahwa pasangan nomor 3 akan kalah karena mirip dengan decoy, nomor 1. ini bertentangan dengan ajaran decoy effect: justru karena kemiripan itulah nomor 3 akan terlihat superior dan bisa mengalahkan nomor 2. tapi toh saya tidak peduli.


tulisan ini sebenarnya saya buat untuk mendemontrasikan bagaimana emosi memainkan peran yang sangat krusial dalam proses pengambilan keputusan manusia, termasuk ketika menentukan preferensi dalam pemilihan umum. meskipun mengetahui hal ini, saya selalu percaya bahwa pilihan saya untuk mendukung pasangan calon nomor 2 adalah hasil dari pergumulan logika tingkat tinggi (yang praktis memasukkan saya ke dalam golongan kaum munafik di dunia behavioral economics), meski pada kenyataannya saya pun dikalahkan oleh emosi.

dalam ranah pemilihan umum dikenal sebuah fenomena bernama paradox of voting atau paradoks nyoblos. artinya, bagi pemilih rasional, seharusnya biaya* (cost) untuk datang ke tempat pengumpulan suara dan memilih lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya (expected benefits); intinya, dengan nyoblos, kita lebih banyak merugi. mengutip tulisan eyal winter, ekonom di university of leicester, belum ada dalam sejarahnya pemilu di sebuah negara dimenangkan oleh satu suara**, yang artinya suara kita tidak sesignifikan yang kita bayangkan.

dalam tulisannya, winter menyebut pemilu sebagai kegiatan yang irasional, yang menjadikan pelakunya sebagai agen-agen yang pula irasional. perilaku mencoblos menjadi irasional karena ia lebih banyak melibatkan emosi daripada logika.

dalam perspektif behavioral economics, manusia memang adalah agen yang irasional jika ukuran rasionalitas adalah mereka2 yang dikisahkan dalam buku2 teks ekonomi klasik, homo economicus. salah satu ciri yang membedakan kita dengan mereka adalah "kemampuan" kita untuk memiliki dan mengambil keputusan berdasarkan emosi.

jadi, apakah mengambil keputusan secara emosional itu buruk? tidak, tidak sama sekali. saya malah merayakannya.

karena menjadi emosional adalah menjadi manusia.


catatan:
*) biaya tidak selalu berupa uang, meskipun uang adalah salah satu komponen biaya yang umum digunakan

**) kalau saya boleh sok tahu sih, sepertinya agak sulit juga kalau harus mengartikan aturan 50+1 seharfiah itu, karena 5.000.001 suara di sebuah negara berpenduduk 10 juta orang bukan saja sulit terjadi tetapi juga 1 suara tidak sama dengan 1 persen; eh, sebenarnya bagaimana sih aturan 50+1 itu? apakah 50%+1% atau 50% dan satu suara (yang kemungkinan besar bukan 1%)?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar